d i a r i a n a k m a m i
Heyyo -ups- Looking for what?:)


كل عام وأنتم في الخير
Sunday, December 31, 2017 1:16 AM 0 balloon[s]


 

Hai gaess :* Ya Allah setelah dua tahun tak terjamah, blog ini seakan kembali dibangkitkan dari alam kubur /? Ya sudah, intinya saya kangen, gitu ajasih. Dalam rangka menyemarakkan tahun baru (meskipun bukan tahun baru wajib saya) bolehlah saya memberi sedikit kenangan di tahun ini. Berhubung jarang jarang saya ngepost cerpen dsb, mumpung sekarang sedang diberi ilham untuk menulis--lebih tepatnya karena dikejar deadline majalah--dan dalam rangka syukuran atas keberhasilan saya menyelesaikan tugas yang selama ini menjadi setengah dari beban hidup, maka saya akan berbagi buah manis dari jerih payah saya selama ini. InsyaAllah cerpen ini akan terbit di majalah KHOUM bulan April 2018. Kritik dan saran sangat diterima. Selamat membachaa  ^-^
***

CERITA PENDEK
Genre : Misteri, Religi, Riddle
Tema : Globalisantri
Judul : "MENYUSULMU"
Oleh : Maila Ariya F

“Alhamdulillah..,” ucapku bersyukur, sedetik setelah bangku itu ditinggalkan.Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil alih kedudukan. Krieeett.., bunyi derit yang membuatku bisa mengira seberapa tua kursi kayu ini. Hmm, mungkin saja sepuluh tahun? Tidak, aku pikir lebih dari itu. Dua puluh? Bisa jadi. Bahkan kupikir usianya lebih tua dariku. Lihatlah kayunya yang lapuk dimakan rayap. Apa si pemilik toko tidak cukup dana untuk menggantinya? Argh, sekarang otakku dipenuhi oleh pertanyaan, termasuk pertanyaan mengapaaku harus memikirkan hal itu.

“Sam,” panggilan yang familiar di telingaku. Tanpa sepatah kata lagi aku pun sudah paham.

“Berapa?” tanyaku. “Biasanya, hehe.,”

Ini adalah Fatih, teman seperjuanganku sejak dahulu. Kami berteman kala seragam putih-biru kedodoran masih jadi kebanggaan. Dicap sebagai bocah ingusan, dianggap rendah oleh kakak kelas, adalah memori buruk masa kelam. Bukan Qosam namanya, jika diperolok ia hanya diam. Tapi, begitulah seorang Fatih, yang selalu sabar menghadapi cibiran dan kata pedas orang-orang. Kekurangan dalam hal keuangan dan kecerdasan, nyatanya tidak menjadi penghalang kesuksesan. Toh, berbekal keuletan dan istiqomah Fatih mampu menjadi seperti sekarang ini.

Panas terik kota Sudan, sudah menjadi pengisi hari-hari kami. Selama 4 tahun kami menghabiskan beasiswa pendidikan, tentu banyak hal yang tidak mudah dilupakan. Masa yang panjang dengan segala manis pahit kehidupan. Kini tiba saatnya penghujung akhir semester, sekaligus akhir dari perjalanan kami. Sebelum pulang, Fatih mengajakku untuk berburu cenderamata. Kalau saja bukan karena dia, aku tidak akan sampai di pasar ini.

Selembar uang rupiah terjatuh. Warnanya yang sudah hampir memudar dan tampilannya yang lusuh. Ternyata uang Fatih. Untuk apa dia membawanya? batinku.

“Kenapa Sam?” tegur Fatih. Aku menunjukkan uang itu. “Ooh, itu uang Ahmad,” jawab Fatih singkat. Ia buru-buru mengambil uang itu dari tanganku.

“Untuk apa kau membawanya kemana-mana?”

“Ya, barangkali aku bisa mengembalikannya,” Fatih berhenti sejenak. “..suatu saat ketika kita bertemu lagi,” lanjutnya. Aku hanya angguk angguk saja. Terkadang Fatih itu aneh. Tapi tak masalah. Dia tetap teman baikku.

Ahmad, satu lagi teman karibku. Dia adalah satu-satunya yang berbeda. Ahmad bukanlah santri pondok, dan tidak ada yang tahu pasti tempat tinggalnya. Ia tidak pernah pulang, sengaja dibiarkan supaya mengaji dengan kang-kang. Jika ditanya asalnya, Ahmad hanya menunjuk arah yang tidak tentu. Tapi ketika ditanya tujuan, ia pasti menjawab, “Ngaji!” sambil menunjukkan buku iqra’ yang dibawanya kemana-mana. Kami pun tidak keberatan. Sikapnya yang baik, pemurah, dan suka membantu membuatnya disegani pula oleh para ahlen.

Ahmadmakhluk yang luar biasa aktif. Sosoknya tidak pernah mau diam, dan seringkali membuat keributan. Seperti tidak ada kesedihan dalam kamus hidupnya. Ahmad paling suka sholawatan, apalagi setiap pagi menjelang shubuhan. Ia hampir tidak pernah absen untuk keliling kamar membawa kentongan sambil bersholawat kencang-kencang. Kalau sudah didemo massa, Ahmad hanya berkata, “Asuwoo.., (Astaghfirullah)” dengan aksen cadelnya.

Ahmad adalah anak yang polos, rendah hati, dan tulus. Ahmad sama seperti kami, suka mengaji, belajar kitab, sholawatan, meskipun kelihatannya hanya ikut-ikutan. Ada-ada saja kelakuan ‘nyleneh’nya. Terkadang ada orang yang menjuluki Ahmad sebagai wali. Tapi dia tak peduli. Ia tetap menjadi Ahmad yang kukenal. Bagiku, setiap tingkahnya menyimpan pesan sederhana. Meskipun tidak sedikit yang memandangnya sebelah mata. Orang hanya tahu dia gila.

Sampai pada suatu saat, Ahmad tiba-tiba menghilang. Tidak ada yang tahu kemana perginya. Beritanya, Ahmad sedang pulang kampung. Aku percaya saja karena Ramadhan hampir berakhir, dankebetulan tiga hari setelahnya libur hari raya. Kulihat, Fatih juga tidak mempermasalahkan kepergian Ahmad. Ya sudahlah.


Bulan-bulan berikutnya, Ahmad tidak lagi tampak membantu para ndalem, sekedar mengantar makanan, atau merusuhi hadroh. Semenjak Ahmad pergi, tidak ada yang membangunkan tahajud, mengoprak jamaah, atau membaca syiiran saat bandongan.Tidak terdengar lagi suara-suara ributnya. Tidak ada makan malam yang sering diambilkannya dari dapur. Bisa dibilang, Ahmad adalah anak kesayangan Pak Kyai. Ia begitu disayang layaknya putra beliau sendiri.

“Sholawat itu diucapkan dengan lisan, dimantapkan dalam hati dan pikiran. Sholawat itu tanda senang, cinta kepada Rasul. Bagaimana supaya lebih mantap? Dirasakan, kalau bisa, di praktekkan, ‘Shallallah ‘alaa Muhammad’” pesan Pak Kyai dalam mau’idzah hasanah-nya. Sekelebat bayangan mengenai Ahmad, terlintas di benakku. Aku ingat betul bagaimana ia menikmati sholawat itu. Ditengah para jama’ah yang membaca dengan tenang, ia berdiri di barisan belakang, menari-nari sufi bak seorang yang sedang ‘kedanan’ nabi.

Lama setelah kepergian Ahmad, muncul banyak rumor jika ia benar-benar wali. Menurut kata orang, Ahmad adalah wali jadzab yang menyamar sebagai santri. Konon, seorang wali yang tinggi tingkatannya mampu berpindah tempat dan berubah identitas sesuai keinginannya. Ini dimaksudkan agar ia tidak mudah dikenali oleh orang-orang.

“Sam? Sudah, aku sudah selesai,” suara Fatih menyadarkanku. Aku bergegas membuntutinya meninggalkan kios cenderamata.

Lelah berjalan, aku menghentikan langkah di depan gerobak es limun. “Kau mau?” tawarku. Fatih menggeleng. “Hmmm, baiklah.” Aku tahu, Fatih tidak pernah mau jajan.

Aku memesan dua gelas, sementara Fatih menunggu di sebelahku. Antrian tidak terlalu panjang, untung saja. Tak lama kemudian, dua gelas es limun sudah jadi. “Fatih,” Aku menyodorkan segelas limun. Awalnya Fatih menolak, tetapi dengan sedikit paksaan, ia pun menerimanya.

Kami kembali berjalan menuju pintu utama pasar. Di depan sebuah kios, Fatih berhenti. Ia mencolek lenganku, kemudian berjalan menemui seorang lelaki tua. Duduk bersimpuh, berpakaian compang-camping, dan mengenakan topi menyerupai caping. Fatih merogoh saku, mengeluarkan selembaran uang dari sana.

Di hadapan lelaki itu, Fatih menunduk penuh ta’dzim. Diserahkannya selembar uang tadi perlahan, tanpa sedikitpun maksud merendahkan. Namun, lelaki itu tak bergeming.

Ya Habib, aku adalah Fatih. Bolehkah aku meminta doamu untukku, dan juga temanku ini?” ucap Fatih kemudian.

Lelaki itu sejenak membetulkan caping, lalu menengadahkan kedua telapak tangan. Suasana menjadi hening sesaat. Sejauh ini aku masih tidak paham dengan apa yang terjadi. Ingin rasanya aku bertanya demi menepis rasa penasaranku. Siapa sebenarnya lelaki ini? Untuk apa Fatih menemuinya? dan uang siapa yang ia berikan, jika dompetnya jelas-jelas ada di tasku?

Hanya berselang sepuluh detik, lelaki itu mengangguk—pertanda menyudahi doanya. Fatih mendongak, pipinya basah oleh air mata. Belum sempat ia berterimakasih, lelaki itu bangkit membawa barang-barang—termasuk uang yang diberikan padanya.

“MasyaAllah, limaadza araitahu Ya Rabb.” Kalimat satu-satunya yang terucap dari lelaki itu, sebelum ia pergi meninggalkan kami.

Aku tertegun. Fatih tetap pada posisinya, sama sepertiku. Kami terdiam, larut dalam suasana hati masing-masing. “Te-rima ka-sih,” kalimat terakhir yang diucapkan Fatih terbata. Aku tahu, itu sungguh terlambat. Begitupun aku, yang terlalu payah dalam membaca situasi. Kini, air mata itu sampai di pelupuk mataku. Aku tahu mengapa pertanyaan itu tidak perlu. Karena diam adalah jawaban. Masih lekat di benakku, siapakah wajah dibalik caping yang tersingkap itu.


Krapyak, 31 Desember 2017


Labels:



0 Comments:

Post a Comment

*Kalian udah baca post Yumi. (ɔ ˘⌣˘)~♡
*Kalo udah masuk sini, kewajibannya komentar (‾^‾)b
*Jangan jadi tukang baca entri gratisan, yo!
*Yok komen, Ape aje dahh! \(´▽`)/



LonelyGirl ?
Welcome to my blog!







SORRY I'M ON LONG HIATUS. BECAUSE I HAVE TO GO BACK TO THE DORM AND START SCHOOL AGAIN. FIXED CONTACT ME, BECAUSE ANYTIME I CAN REPLY ;))



Secret Navi
Click and hover me! :DD

About Stuff
F.A.Q Affies

Followers
Ask.fm
Credits
Best viewed in Google Chrome.
© All Right Reserved 2014.


Tagboard
Leave your sweet words



Memories ★
Like a Time Capsule