d i a r i a n a k m a m i
Heyyo -ups- Looking for what?:)


Tentang Umpluk di Mulutnya
Friday, October 12, 2018 12:05 AM 0 balloon[s]




"Marsinah apa kabar?"

"Kenapa nanyain dia,"

"Oh, salah ya. Yaudah, gimana kabarnya Tukini,"

"Hayoo, ada apa. Kok malah Tukini,"

"Lah. Tadi Marsinah salah, Tukini salah, kamu wes, apa kabar?"

"Walaah, malah aku."

"Yaudah, gimana kabar Marsinah?"

"Yaa gitu. Masih sakit hati kayaknya."

***

Aku terkekeh mendengar cerita tentangmu. Kau menanyakan perihal kabarku? Haha. Cara yang begitu klasik untuk membuka sebuah pembicaraan. 

***

"Aku kalo makan cokelat sukanya aku simpen dulu. Lamaaa. Sampe-sampe aku lupa punya cokelat."

"Kalo aku sukanya langsung tak habisin. Pokoknya."

Pagi ini forum gosip-gosip kelas di hangatkan oleh kehadiran Xilverqueen, sekaligus jadi pembuka obrolan diantara kami. Juminten, si ceriwis kelas, langsung beraksi dengan segudang ceritanya. 

"Pernah tuh ya, aku dapet coklat dari MARYONO,"

Deg. Aku diam saja. Karena sejatinya aku tidak ingin membicarakan perkara ini. 

"Coklat dari MARYONO itu ya, aku simpen dulu di lemari. Gak aku makan-makan. Sampe aku baru inget jaal punya coklat HADIAH DARI MARYONO,"

Tidak ada yang menyahut. Suasana kelas mendadak hening. Aku tetap diam, meski aku tahu dia sedang memancing responku. Matanya memicing tajam. Pura-pura bodoh, Chamidah akhirnya mencoba melebur keheningan. 

"Hayoo, siapa ituu,"

Basi sekali kalimatnya. Kini semua mata mengarah padaku. Apa harus, aku angkat bicara? 

"Eeh, siapa to?" 

Aku bisa menjadi lebih basi dari kalian. 


Kesal dengan balasanku yang hanya sekenanya, Juminten akhirnya mengoweh lagi. 

"Makanya kamu tuh Mar, kalo mau dikasih hadiah, minta aja tuh sama si Joko,"

***

Aku sudah muak dan nyaris mokek. Lebih baik aku diam daripada beromong yang tak penting. Semakin kulihat, semakin banyak cara orang mencari perhatian. Semakin beragam cara untuk membuka obrolan. Banyak pamer. Banyak tingkah. Banyak umpluk juga di mulutnya. 

Ah, ingin juga aku apresiasi ceritamu kala itu. 

"Waaah, kenapa tidak langsung saja kau makan cokelatnya? Sekalian saja kau makan itu si MARYONO."

.. tapi sayang. 

Aku tidak punya banyak umpluk sepertimu. Dan, aku tidak cukup miskin untuk mengemis pada lelaki yang 'katanya' kau cintai itu. 

***

"Hey Marsinah, apa kau sudah dengar soal Maryono?"

Lagi-lagi Juminten dengan segala tutur katanya yang begitu mewarnai hari-hariku. 

"Tidak, dan mungkin itu bukan urusanku lagi,"

"Kau tahu?  kabarnya ia sudah beralih pada Cindelaras,"

Aku menghela nafas. "Ya sudah, lalu aku harus apa?"

"Apa kau terima begitu saja?"

"Memangnya aku punya hak apa soal hidupnya?"

"Aihh Marsinah, aku hanya ingin dia denganmu saja,"

Aku diam, larut dalam pr menulisku. 

".. apa kau tidak takut dia diambil orang jahat?" lanjutnya. 

"Pentingkah hal itu bagiku?"

"Huhuhu, jangan putus Marsinah. Aku tidak mau kau seperti mereka yang lain,"

"Siapa?"

"I dan A,"

"Masa bodoh, aku tidak suka mengurusi hidup orang lain,"

"Sekarang Maryono dan Cindelaras,"

"Kenapa kau ini? Tolong. Jangan bicarakan tentang Maryono lagi. Siapapun yang menyebut namanya di hadapanku, maka nilai ujiannya buruk."

"Perjanjian macam apa itu? Tidak bisa!"

"Ya sudah, diam makanya,"

"Aku bicara dengan diriku sendiri!"

"Bagus, sana kau bicara saja pada dirimu sendiri."

"Aku ingin lihat kau menangis. Sepertinya kau tidak pernah menangis,"

Kata-katanya sukses membuatku tertegun. Sampai hati benar ia berkata seperti itu? Bukan soal perasaanku, tapi apa ia tidak malu jika citranya bobrok hanya karena ucapan itu? 

Sedetik aku melihat wajah wajah itu. Wajah yang tidak suka. Benci. Heran. Iba. Ada-ada saja Tuhan menciptakan watak manusia. 

"Lihat, Utami saja tidak suka melihatmu," kataku mengalihkan pembicaraan. 

"Kok kamu gak pernah nangis sih, Mar,"

"Aku pernah lihat Marsinah nangis, sewaktu bercerita soal ibunya yang tahu  bahwa ia diskors. Tapi tak lama ia lantas menyeka air mata itu. Iya kan, Mar? " kata Muniroh. 

Aku tersenyum tipis mengingat kejadian itu. 

"Nangis lagi sih Mar. Aku pengen lihat kamu menangis," Juminten lagi lagi memanasi suasana. 

"Alaah Juminten tuuh, gak usah bikin bikin masalah," Astuti memotong. 

Seketika, aku menyeringai. 

"Hah. Menangis? Untuk hal yang se-sepele ini? Kupikir itu hal bodoh. Bagiku, air mata adalah senjata pamungkas yang tidak bisa sembarangan menggunakannya,"

"Berarti kau tak punya senjata pamungkas HAHAHA,"

Juminten tertawa. Tawa yang menyedihkan. Secara tidak langsung ia mengakui kebodohannya. Bodoh karena tak tahu apa itu senjata pamungkas. Dan bodoh karena telah menangisi lelaki yang tak patut untuk ditangisi. 

Aku diam. Benar benar diam. Semakin aku debat ia, semakin nampak kebodohannya. Aku menatapnya sekali dengan iba, lalu memalingkan muka untuk selamanya. 

Hanya terdengar suara gemuruh mereka yang menyaksikan kami beradu mulut.

"Jangan begitu Jum! Minta maaflah pada Marsinah!"

Suasana mencekam membuat Juminten menjadi canggung. Dengan keterpaksaan adanya, Juminten meminta maaf. 

"Maaf Mar."

"Ikhlas gak tuh," seseorang menyeletuk. Kupikir Juminten malu dan ia segera menyodorkan tangan kanannya untuk menjabatku. 

Tapi aku tak bergeming. Ku biarkan tangan itu terjulur begitu saja. Bahkan sampai besok pun tak akan kuladeni. Bah. 

"Hayo jangan marah," kata Juminten enteng. Ia kemudian bernyayi layaknya seorang guru tk membujuk muridnya yang merajuk. 

"Maaf ya,"

Kali ini aku menggeleng kuat. Aku jujur. Aku tidak suka dengan mulut masamnya. 

"Marsinah marah beneran jaaal."

"Kamu sih. Kalo ngomong sukanya nggak penting."

Kalimat terakhirku yang menutup adu mulut kami pagi itu. Juminten berlagak tidak mendengar. Atau mungkin kupingnya sedang terganggu? Kuharap ia hanya berpura pura. 

Kau, yang dipanggil dengan sebutan 'cablak'. Kini aku mengerti kenapa sebutan itu begitu pantas untukmu.  Masih diuntung kau punya otak cerdas, yang mampu memikul pendeknya pola pikirmu. 

Di sisi lain aku pun sadar. Bahwa akhir yang tragis adalah ending terbaik untuk kisah pahit kita. Ucapkan selamat tinggal. Hati terlalu sempit untuk menerima sekeping cinta. 




0 Comments:

Post a Comment

*Kalian udah baca post Yumi. (ɔ ˘⌣˘)~♡
*Kalo udah masuk sini, kewajibannya komentar (‾^‾)b
*Jangan jadi tukang baca entri gratisan, yo!
*Yok komen, Ape aje dahh! \(´▽`)/



LonelyGirl ?
Welcome to my blog!







SORRY I'M ON LONG HIATUS. BECAUSE I HAVE TO GO BACK TO THE DORM AND START SCHOOL AGAIN. FIXED CONTACT ME, BECAUSE ANYTIME I CAN REPLY ;))



Secret Navi
Click and hover me! :DD

About Stuff
F.A.Q Affies

Followers
Ask.fm
Credits
Best viewed in Google Chrome.
© All Right Reserved 2014.


Tagboard
Leave your sweet words



Memories ★
Like a Time Capsule